TUMULIS.COM – 30 Oktober 2026 Dalam sebuah seminar di polimdo dan di hadapan para Dosen dan mahasiswa dalam penyampaian yang mendalam, pembicara Patrik America menyoroti kekayaan tradisi intelektual Kristen yang sering kali terlupakan, menegaskan bahwa kehadiran Tuhan bukan hanya ada di mana-mana atau terbatas di dalam gereja. Ia menekankan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta langit dan bumi, yang juga merupakan Allah atas sains, pemerintahan, dan bisnis.

Oleh karena itu, Patrik menyerukan agar umat Kristen bekerja keras untuk mengalihkan terjemahan Firman Tuhan dari Alkitab agar dapat diaplikasikan secara nyata di dunia ilmu pengetahuan, dunia bisnis, dan pemerintahan. “Karena ada banyak masalah dan tantangan di dunia ini, banyak orang merespons dengan demonstrasi dan kemarahan. Namun, itu bukanlah respons Kristen,” tegas Patrik. Ia mengajak umat untuk membawa setiap masalah kepada Tuhan terlebih dahulu dan berdoa agar ada jalan keluar, karena Allah memiliki solusi untuk semua masalah. Alih-alih berfokus pada masalah, umat beriman diajak untuk berfokus pada solusi.

Sebagai ilustrasi bahwa tidak ada yang mustahil, Patrik membagikan pengalaman pribadinya mengunjungi Bapak Trump di Mar-a-Lago, Florida, bersama sang istri. Ia kemudian mencontohkan terobosan Elon Musk dan Tesla yang berhasil meluncurkan mobil terbang, sebuah inovasi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai fiksi ilmiah oleh konsensus umum. “Jika Elon Musk mendengarkan konsensus, pasti tidak akan ada mobil terbang. Ada pelajaran di sini: jangan dibatasi oleh apa kata orang-orang, segala sesuatu tidak ada yang mustahil bersama dengan Allah,” ujarnya.

Namun, Patrik mengingatkan bahwa iman saja tidak cukup; iman tanpa karya adalah sia-sia. Sebagaimana Abraham yang harus bertindak ketika dipanggil Tuhan, umat Kristen juga harus menggunakan akal budi mereka. Inilah yang dilakukan oleh Elon Musk, yang membangun inovasinya berdasarkan pemahaman yang baik tentang teknik dan hukum-hukum fisika.

Patrik kemudian menyoroti figur Sir Isaac Newton, ilmuwan yang meletakkan dasar bagi pembangunan teknologi moderen. “Setelah Newton meninggal, ditemukan bahwa dua pertiga dari catatannya adalah mengenai Alkitab,” ungkap Patrik. Newton adalah murid yang rajin belajar Alkitab, bahkan lebih dari belajar sains. Kesaksiannya menyatakan bahwa jika seseorang sungguh-sungguh berupaya memahami dunia, ia akan percaya kepada Allah karena melihat tatanan-Nya dalam keindahan fisika.

Menutup paparannya, Patrik menyinggung paradoks ilmuwan ateis modern yang mengklaim hanya percaya pada sains dan tidak pada Tuhan . “Sains yang mereka percayai justru dibangun oleh orang-orang percaya. Jadi kalau mereka memang tidak percaya, harusnya jangan pakai hasil pekerjaan dari orang percaya,” tegasnya. Ia mencontohkan hukum gravitasi universal serta elektromagnetisme yang ditemukan oleh Faraday dan Maxwell, yang juga merupakan umat Kristen yang percaya dengan kuat. Tanpa Faraday, tidak akan ada listrik, ponsel, maupun mobil terbang hari ini.

“Hukum-hukum fisika ini datang dari orang percaya. Jangan dibatasi oleh perkataan orang, karena segala sesuatu mungkin bersama Allah,” pungkas Patrik Anerika, mengakhiri sesi yang mengajak umat untuk kembali menggali dan menghidupkan kedalaman tradisi intelektual Kristen di tengah tantangan zaman Amin.

Mec.