Manado,TUMULIS.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan vokasi Indonesia. Tim Kecerdasan Buatan (AI) dari Politeknik Negeri Manado (Polimdo) berhasil meraih Juara 3 Dunia dalam kompetisi inovasi teknologi tingkat internasional yang digelar di Cina. Pencapaian bersejarah ini mempertegas peran Polimdo sebagai institusi pendidikan vokasi yang mampu menghasilkan inovasi teknologi aplikatif, relevan dengan kebutuhan industri, dan berdaya saing global.
Tim berprestasi ini dipimpin oleh akademisi handal, yakni Ir. Rudolf Estephanus Golioth Mait, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., bersama Fardi Kalumata, S.ST., M.T., Steven Kamuahan M, ars serta didukung oleh seluruh elemen keluarga besar Polimdo.
Mengalahkan Ratusan Proyek dari Seluruh Dunia
Kompetisi ini diikuti oleh total 1.600 proyek dari berbagai negara, dengan rincian 635 proyek berasal dari luar Cina. Sebelum bertolak, tim Polimdo telah berada di peringkat 12 dunia. Melalui seleksi ketat, tim berhasil menyisihkan ratusan kompetitor dan masuk ke dalam 8 besar finalis yang berhak melakukan presentasi akhir.
Dari empat perwakilan Indonesia yang ikut serta, hanya dua institusi yang berhasil menembus peringkat teratas, yaitu President University dan Politeknik Negeri Manado.
Inovasi Integrasi Alat Berat Otonom, Satelit, dan Drone
Proyek yang diusung tim Polimdo merupakan inovasi terobosan yang mengintegrasikan teknologi alat berat otonom dengan sistem satelit dan drone. Keunggulan tim ini juga didukung oleh legalitas dan kompetensi yang terstandar, di mana para anggotanya telah memiliki lisensi resmi sebagai pilot drone dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI). Hal ini menjadi nilai tambah yang meyakinkan juri, mengingat pengoperasian drone di area proyek memerlukan izin ketat dari otoritas terkait seperti Lanud dan Airnav.
Tantangan Berat di Ajang Internasional
Perjalanan menuju podium juara tidak lepas dari tantangan luar biasa. Tim mengaku menghadapi kendala fisik yang ekstrem setelah tiba di lokasi lomba (Suzhou) pada pukul 03.30 dini hari waktu setempat, namun presentasi mereka dijadwalkan ulang pada pukul 15.30 siang di hari yang sama.
Selain itu, hambatan bahasa menjadi ujian tersendiri. Presentasi dilakukan dalam bahasa Inggris, sementara panelis juri menggunakan bahasa Cina. Interpreter baru tiba lima menit sebelum sesi presentasi dimulai, tanpa adanya sesi latihan atau coaching sebelumnya. Aturan presentasi juga sangat ketat, di mana seluruh perangkat elektronik, termasuk ponsel dan jam tangan, disita oleh panitia. Tim hanya diizinkan membawa diri sendiri dan materi presentasi yang ditampilkan di layar.
Respons Positif Juri dan Raksasa Teknologi Cina
Ketajaman inovasi tim Polimdo memancing rasa penasaran tinggi dari para juri. Beberapa pertanyaan kritis yang diajukan meliputi:
- Status Paten: Tim menjelaskan bahwa teknologi ini akan segera dipatenkan sepulang dari kompetisi.
- Keamanan Teknologi: Menjawab kekhawatiran teknologi jatuh ke pihak yang tidak tepat, tim menegaskan bahwa pengoperasian sistem ini terikat regulasi ketat dan sertifikasi resmi di Indonesia.
- Potensi Riset dan Pengembangan (R&D): Panelis dari Cina sangat antusias dan mendorong tim untuk terus mengembangkan teknologi ini, mengingat Cina sendiri sedang gencar mengembangkan alat berat otonom.
- Komersialisasi: Tim berkomitmen akan membawa minat industri ini ke pimpinan Polimdo untuk kajian kerja sama lebih lanjut.
Antusiasme tinggi juga ditunjukkan oleh XCMG, raksasa perusahaan teknologi dan alat berat milik Cina yang memiliki portofolio mulai dari alat berat, torpedo, satelit, hingga pengembangan AI dan 6G. Direktur XCMG Indonesia secara khusus meminta pertemuan dengan tim Polimdo setelah sesi presentasi, membuka peluang kerja sama dan studi banding di masa depan.
Dampak Jangka Panjang bagi Pendidikan Vokasi Indonesia
Keberhasilan ini bukan sekadar piala, melainkan bukti bahwa karya anak bangsa dari Sulawesi Utara mampu diakui di panggung inovasi internasional. Ke depan, tim Polimdo berkomitmen untuk tidak berhenti pada tahap ini. Inovasi akan dikembangkan menjadi website dan aplikasi yang dapat diakses secara luas, khususnya untuk mendukung sektor pertambangan lokal di Sulawesi Utara.
Selain itu, prestasi ini menjadi motivasi kuat untuk mempercepat transformasi digital di lingkungan kampus, seperti digitalisasi peminjaman alat laboratorium menggunakan QR Code, pengembangan materi pembelajaran dinamis berbasis AI, dan yang paling utama: membuka jalan bagi mahasiswa muda Polimdo untuk langsung terjun dan berprestasi di kompetisi internasional pada periode-periode selanjutnya.
“Juara 3 dunia ini adalah bukti bahwa dengan kerja keras, doa, dan kolaborasi, mahasiswa dan dosen dari daerah Nyiur Melambai mampu berdiri sejajar dengan inovator terbaik dunia. Dalan konfrensi perss hari Selasa (3/11/2026) mereka berjanji Ini baru permulaan,” tutup tim dengan penuh semangat.
Mec.

Tinggalkan Balasan